Kau dan Dia

July 28, 2019

Bagaimana rasanya hidup dalam permainan, atau lebih ekstrimnya, dipermainkan? Lelah. Sungguh sangat melelahkan sekali.

Pernahkah kau suatu kali berpikir tentang tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan? Banyaknya irisan persamaan dengan beberapa orang yang kau temui, dan beberapa bahkan bisa menjadi dekat dalam relasi hidup ini adalah salah satu kebetulan yang tidak pernah direncanakan. 

*** 
Sedari awal, saat kau dan dia seharusnya pertama kali bertemu, kau tidak diperkenankan menghampirinya lebih dulu. Sebaliknya, dia-lah yang pada akhirnya menghampirimu, mendatangimu meski bukan karena kehendakmu. Bukan pula karena menanggapi ajakan darimu, namun IA yang telah mengatur skenarionya. 

Sedari awal, harusnya kau juga paham, meskipun banyak pertalian yang menghubungkan masa lalu kau dan dia, sehingga terjadi banyak persamaan – sesungguhnya kau sadar bahwa kau dan dia sebenarnya sangat jauh berbeda. Kau mesti harus berjuang, sementara dia tidak, karena dirinya telah ada yang memperjuangkan. Kau harus mencari hadiah sebagai imbalan atas seluruh jerih-payahmu, sementara dia telah mendapat anugerah. Hidupnya tak perlu lagi ada kekhawatiran, yang tentu berbeda denganmu karena penuh keabu-abuan. 
*** 
Karena sesungguhnya, kau dan dia sama-sama terikat. Kau dan dia mungkin terjebak dalam sebuah irisan masa lalu yang menyenangkan, namun kau juga harus paham bahwa masa depan kau dan dia sesungguhnya amatlah berbeda. 

Karena sesungguhnya, saat kau dan dia sama-sama mencintai pengetahuan, tentu itu bukanlah hal yang buruk. Namun kau juga harus paham, bahwa dia menempuh jalan yang sekarang harus dijalani atas sebuah perintah, sebuah tanggung-jawab, keharusannya – bukan semata keinginan, atau impian. 

Karena sesungguhnya, usai kewajibannya tuntas, dia tak perlu lagi khawatir karena dunia telah memberikannya sebuah misi baru yang sudah dalam genggaman. Sementara, kau masih meraba-raba. Jadi, jangan buang-buang waktumu, mimpi-mimpimu, harapan-harapanmu, dan segala macam khayalmu – untuk suatu saat nanti berada di kampus yang sama, kota yang sama, menyelesaikan tugas akhir bersama, memakai toga di tugu alma-mater yang sama, hingga menghabiskan akhir pekan dengan mendatangi konser band favorit bersama, atau sekedar menonton pertandingan klub bola kesayangan bersama-sama. 

Karena sesungguhnya, ada beberapa orang yang dipertemukan olehNya untuk saling melengkapi hidup, saling menyempurnakan satu sama lain. Namun ada pula yang dipertemukan olehNya, dengan ketidaksengajaan yang sempurna hanya untuk melengkapi kekosongan hati – bukan raga, namun jiwa. Kau dan dia sama-sama saling mengisi, saling mengasihi, namun tidak untuk saling memiliki. 
*** 
Jadi, kau. Pandai-pandailah menjadi pemain yang handal, dalam setiap permainan yang diberikan olehNya. Karena ujian akan selalu ada, dan bukan menjadi lebih mudah. Karena kau harus bisa, berdiri diatas kakimu sendiri – bukan karena pertolongan orang lain yang merasa iba. Karena, kau harus menjadi kuat, sekalipun untuk dapat bisa melangkah tanpa tatih, meski harus meniti di atas buih.


Picture by : Pinterest

You Might Also Like

0 comments