Anomali di Kantor Sendiri

September 09, 2019

Tidak pernah terbesit dalam pikiran saya, bahwa saat ini akan betah bekerja dalam sektor formal yang mengharuskan duduk selama kurang lebih 9 jam, belum lagi kalau harus lembur karena pekerjaan sedang overload, dan kita tidak memiliki pilihan lain karena diwajibkan overtime. Tapi, ternyata hidup secara realistis itu lebih penting dari sekedar idealis, setidaknya untuk terus bertahan hidup dalam situasi seperti ini.
Setelah pekerjaan sebelumnya banyak bergelut dalam bidang tulis-menulis dan riset hingga harus dengan ikhlas menyudahinya. Tidak ingin lama berdiam diri, akhirnya mencari peruntungan lain degan menjalani masa training di sebuah perusahaan telekomunikasi (tapi memutuskan untuk tidak lanjut karena jam kerja yang tidak sehat). Dan saat ini saya telah lolos masa probasi dan menjadi junior-staff pada perusahaan logistik asal Singapura, yang memiliki dua kantor - yang berlokasi di Jakarta sebagai Head Office dan di Yogyakarta sebagai satu-satunya Branch Office. Perusahaan ini bisa dibilang tergolong start-up, dengan kebijakan yang masih fleksibel dengan regulasi yang masih berubah-ubah.

Well, kalau boleh jujur. Ini bukanlah pekerjaan impian, bukan pula cita-cita yang tumbuh dalam angan-angan. Saat kuliah hingga lulus sebenarnya saya tidak memiliki tujuan pasti, akan kemana setelah wisuda. Tapi satu yang tak pernah berubah, saya mencintai dunia akademik. Entah apapun dan bagaimana caranya berkarya, baik itu di NGO, menjadi guru, dosen ataupun peneliti. Namun satu hal yang pasti, saya ingin sekolah lagi. Jelas, keinginan-keinginan seperti itu akan jauh sekali apabila melihat kehidupan yang sekarang saya jalani.

Ada banyak motivasi dan alasan orang untuk bekerja. Sebagian besar adalah untuk bertahan hidup. Sebagian kecil hanya untuk mengisi waktu. Saya ada diantara keduanya. Realistis saja, saya harus sudah mampu berdikari dalam sisi finansial, meskipun hidup tak melulu soal uang, namun hidup tetap butuh uang, paling minimal untuk bertahan. Entah itu menabung, hang-out sama teman-teman, berdonasi untuk hewan terlantar, jajan atau sekedar mengajak orang-tua jalan-jalan. Namun, sebenarnya saya juga bekerja hanya untuk mengisi waktu. Iya, saya tidak ingin terlalu lama bekerja, setidaknya sampai saya mendapatkan kesempatan untuk studi lagi, secepatnya pekerjaan ini saya tinggalkan. Bukan berarti tidak komitmen, namun pekerjaan ini sesungguhnya tidak menjanjikan apa-apa untuk kehidupan saya yang masih panjang di masa mendatang.

Lantas, sejauh ini, apa yang membuat saya bertahan? Pertama, lokasi kantor yang dekat dengan rumah, sehingga kalau terjadi sesuatu hal yang emergency di rumah, bisa segera mengambil tindakan dengan cepat. Kedua, lokasi kantor dekat dengan Kampus Sanata Dharma – yang memiliki Kapel, dimana saya sering mengikuti Misa; baik Misa harian, Misa Hari Minggu, atau sekedar Jalan Salib saat Jumat Pertama. Jika berjalan kaki dari kantor, hanya kurang lebih 5 menit, sudah sampai gerbang depan Kapel. Jawabannya terkesan sepele dan tidak masuk akal, ‘kan? Tapi setidaknya, untuk saat ini, kedua hal itu yang membuat saya memiliki semangat untuk tetap bekerja dan terus berjuang. Kedua hal itu pula yang hingga kini membuat diri ini tetap merasa hidup.
***

Padahal, jauh sebelum lulus kuliah, saya memiliki impian untuk bekerja di luar kota Yogyakarta. Bekerja apapun, yang penting jauh-dari-rumah. Namun, skenario Tuhan tidak ada yang pernah tahu. Pada Bulan November tahun 2017, Ayah masuk Rumah Sakit untuk yang pertama kali dengan penyakit yang cukup fatal.  Hiponatrium, yang pada akhirnya mengganggu fungsi ginjal dan Hipertensi yang berdampak gangguan pada otot jantung - hingga sempat kritis beberapa hari. Kemudian tahun berikutnya, dan kebetulan pada bulan yang sama, Ayah kembali masuk Rumah Sakit untuk kali kedua, juga sama fatalnya. Indikasi jantung yang bermasalah, ditambah diare parah yang membuat cairan dalam tubuh berkurang, dan lagi-lagi kritis. Beruntung saat itu saya masih bekerja secara freelance, sehingga bisa bolak-balik kantor-rumah-rumah sakit, dan berbagi waktu dengan Ibu untuk menjaga Ayah serta mengurus rumah. 
Belum selesai disitu, masih di tahun yang sama pula, pada akhir bulan November 2018 - saya harus mengadopsi seekor anak anjing yang hampir meregang nyawa akibat digigit kucing liar yang nakal. Waktu itu saya tidak pikir panjang, yang penting nyawa anak anjing ini tertolong, dan dia dapat terus hidup.
Tanggungan-tanggungan tanpa rencana itu pada akhirnya membuat pendek kaki ini untuk dapat melangkah ke tempat yang jauh.
***

Saat semuanya berjalan diluar kendali kita, apakah kita tetap mampu bersyukur?

Beberapa bulan awal bekerja, saya sering sekali menjadi sakit. Mungkin ini yang namanya psikosomatis, ia menyerang pikiran yang kemudian merambat ke organ tubuh yang lain. Ada yang psikosomatis, lalu menjadi obesitas, ada pula yang menjadi anorexia. Kebetulan dalam kasus saya saat ini, yang diserang adalah syaraf. Kecil, tidak kelihatan namun dampaknya besar, dan cukup fatal. Dalam satu bulan, pasti saya mau tidak mau izin sakit (meski sebenarnya tidak boleh) karena harus berobat dilanjutkan terapi ke Rumah Sakit, dan tentu harus banyak bersabar mengurus peradministrasian karena seluruh biaya ditanggung asuransi BPJS dengan pelayanan yang kurang maksimal. Penyakit-penyakit itu seputaran gangguan syaraf, seperti Vertigo, HNP (Herniated Nucleus Purposus) sampai pernah terakhir Neurpati Perifer. Aneh-aneh aja ya, penyakit yang sebelumnya tidak pernah atau jarang muncul, sekarang datang tanpa diundang.
***

Menjadi anak perempuan dan satu-satunya dalam keluarga, memaksa kita tetap mengikuti nilai-nilai sebagai perempuan, namun juga harus bertahan sekuat laki-laki. Karena mau tidak mau kita mesti berdiri diatas kaki sendiri, bukan karena memanfaatkan kesempatan atau belas kasihan orang lain. Masa-masa sekarang ini, perempuan sangatlah membutuhkan kemandirian finansial dengan bekerja, baik menjadi pekerja di sektor formal, maupun informal; seperti berdagang, membuka usaha mandiri skala rumahan, atau lainnya. Penghasilan dari pekerjaan yang dilakoni akan memberikan bekal yang dibutuhkan bagi perempuan untuk menjalani kehidupan. Namun seminim-minimnya motivasi saya untuk dapat terus bekerja, dalam hati saya menguatkan diri bahwa ini adalah salah satu cara Tuhan untuk memformasi hidup saya. Soal kemandirian finansial bagi perempuan menurut saya juga penting karena tidak ada siapapun yang tahu apakah di hari esok ketergantungan ekonomi membuat perempuan menjadi tidak dapat menghindar dari hal buruk yang akan terjadi.


Dalam hati kecil, seringkali saya menggugat, kenapa saya harus berada di sini, seperti ini dan saat ini? Tidak ada kebanggaan yang muncul saat menerima gaji pertama kali, juga tidak ada gairah saat orang-orang antusias bertanya soal pekerjaan saya. Untuk skala kota Yogyakarta, dan setingkat pekerjaan seperti ini, besaran gaji yang saya terima sebenarnya cukup besar. Namun sekali lagi, bukan tentang angka nominal yang saya terima, melainkan kepuasan batin. Dan saya tidak mendapatkan kepuasan itu.
Mereka yang bertanya dengan antusias tentu bukan pula karena prestige, karena sekedar ingin tahu dan kemudian mulai mengkomparasi. Kalau sudah begitu, seringkali saya menghindar dan malas berbasa-basi, dijelaskan toh tidak juga semua bisa paham. Bekerja seperti robot yang sama sekali tidak memiliki sisi humanis, membuat saya diam-diam semakin kritis, dan menjadi anomali di kantor sendiri.

Iya, anomali. Berbeda dari yang lain seringkali membuat kita menjadi sulit bertumbuh dan berkembang. Tentu masih bisa berbaur dan bergaul. Masih pula memiliki teman untuk bertukar cerita, meskipun tidak banyak. Jarang sekali bisa mengobrol hingga tertawa. Banyak diam meski tidak mengeluh. Entah kapan menjadi anomali ini berlalu, mungkin saat diri sendiri telah mampu menerima kenyataan, atau mungkin saat diri ini tidak lagi merasa, 
“Kenapa aku berbeda dan kenapa aku berada di sini - di tempat ini?
***

Tidak apa-apa, saat kau berada dalam sekelompok orang yang memiliki pandangan dan aliran berbeda denganmu. Karena kau tidak mampu memaksa agar semua orang menyukai kehadiranmu, hanya karena kau sedikit lain dari mereka.
Karena sesungguhnya, tidak apa-apa sesekali untuk menjadi berbeda. Dan kau akan mejadi kuat karenanya.


Ilustration of a woman with a good-relief
(Picture by : Pinterest)

You Might Also Like

0 comments