Préambul

February 03, 2016

Kata Preambul lebih sering disalah-eja-kan menjadi Preambule. Kolonial yang bertalian dengan Nusantara di masa lampau ini juga berpengaruh terhadap banyaknya kata serapan yang diadaptasi dari Bahasa Belanda, termasuk juga Preambul salah satunya. Jika diartikan, Preambul juga adalah Pembukaan. Sementara dalam sebuah buku, Preambul juga menjadi bagian dari Pendahuluan atau Kata Pengantar. Judul yang saya ambil dari kata serapan ini, memiliki harapan agar apa yang sudah dimulai dalam tulisan tidak berakhir dengan sia-sia dan memiliki nilai.

(Picture by : Pinterest)

Ada sebuah adagium Latin yang berbunyi : “Scripta Manent Verba Volant” yang kira-kira memiliki arti : yang terucap akan sirna, namun yang tertulis akan abadi. Adagium tersebut diucapkan oleh salah satu Senat Romawi pada sebuah orasi, Senat yang bernama Caius Titus. Tampaknya saya sependapat dengan Titus, si Senat Romawi itu. Adagium itu benar adanya, karena hal tersebut terbukti dengan jejak sejarah berupa batu-batu prasasti kuno, tulisan di lontar, tulisan dalam gua dan masih banyak lagi. Kita bisa menjadi tahu adanya kehidupan di masa lalu dengan arsip tulisan yang menjadi jejak sejarah. Tidak hanya itu saja, dengan adanya tulisan maka kita juga bisa mempelajari hingga menafsir Kitab Suci yang ditulis pada waktu lampau. Teori-teori besar yang mampu merubah dunia, hingga bagaimana republik ini dibangun melalui surat-surat perjanjian yang masih tersimpan dengan baik di museum; menjadi bukti bahwa pentingnya sebuah tulisan dan bagaimana jejak itu menjadi abadi. Sungguh, memang benar warisan terbesar dari masa lampau bukanlah harta karun beserta kotak Pandora, namun peninggalan arsip, pemikiran dan kebijaksanaan yang tertuang dalam tulisan.

Saya sendiri tidak pernah akan tahu sampai usia berapa saya akan hidup. Sudah berapa banyak harta yang bisa saya wariskan nanti. Bagaimana saya nanti akan dikenang. Tapi sebelum segalanya jadi rumit, baiklah saya mewariskan cerita terlebih dulu. Ada banyak sekali kisah-kisah, ide, pengalaman, refleksi hingga gagasan yang terlewatkan begitu saja tanpa ada dokumentasi dengan baik. Setidaknya, walaupun nilainya tidak bisa disamakan dengan logam mulia, masih ada kisah-kisah berharga yang nantinya memiliki tempat di setiap relung-relung hati para pembaca. Oleh karena itu, saya mencoba untuk kembali konsisten menulis. Jika belum mampu menulis untuk orang lain, setidaknya untuk diri sendiri dulu.

Mungkin nantinya akan banyak kisah yang tertuang disini. Kalian bisa membaca secara random, tidak ada aturan khusus harus mana dulu yang dibaca. Tapi ada baiknya kalau kalian membaca secara perlahan-lahan, karena membaca cepat dan perlahan-lahan toh sama-sama akan selesai kok. Tidak perlu juga terburu-buru melahap habis semua kisah disini, perlahan-lahan saja. Bukankah semua yang melewati proses itu memiliki makna dan arti?



Enjoy the story,

-y-           


You Might Also Like

0 comments