Bandung Usai Berkabung Part III : Kineruku
March 27, 2018
Rasanya teduh sekali saat memasuki halaman rumah dengan gaya kolonial yang terletak di Jl. Hegarmanah no. 52 Bandung. Baca, Dengar, Tonton. Tiga kata yang melekat erat dengan tempat yang satu ini, Kineruku. Sang empunya – yang seorang arsitek dan seniman – bercerita, dulunya tempat ini disebut Rumah Buku Kineruku, namun sejak tahun 2012 namanya berubah menjadi Kineruku. Berlama-lama di tempat ini tidak akan membuat para pengunjung bosan. Selain karena koleksi buku-buku yang lengkap, mulai dari sastra, arsitektur, budaya, resep, seni, desain, fiksi, filsafat (ini yang penting!) dan beberapa ada buku anak. Kineruku juga menyediakan beragam menu makanan dan minuman, mulai dari snack ringan hingga makanan berat. Ada juga rak yang berisi CD dan film yang bisa disewa atau beberapa bisa dibeli, dan juga beberapa aksesoris hand-made yang dijual dekat dengan rak kaset. Bisa dibilang Kineruku adalah sebuah perpustakaan plus-plus yang dibuka untuk umum, terbuka bagi siapa saja. Namun untuk menjadi member harus berdomisili di Bandung.
Jika dilihat sekilas dari depan, siapa yang menyangka bahwa rumah tua bercat putih gading adalah surga penuh buku (dan juga ada beberapa barang vintage di toko sebelahnya – Garasi Opa). Begitu masuk dan menyelesaikan urusan per-loker-an dan per-administrasi-an, saya menuju kursi yang berada di beranda belakang. Sembari membaca buku The Consolation of Philosophy - Alain de Botton, diselingi dengan buku kumpulan resep masakan Indonesia dalam Mustikarasa, tak lama kemudian seorang lelaki membawakan pesanan – secangkir hangat Cappuccino. Teman yang pas untuk membaca buku, menjelang sore yang teduh di bawah langit kota Bandung. Seperti berada di rumah sendiri, hangat dan homey. Setiap perjalanan tentu memiliki tujuan yang berbeda, bagi orang luar kota Bandung, perpustakaan atau taman bacaan mungkin bukan tempat yang menyenangkan untuk dituju. Apalagi jauh-jauh ke Bandung hanya untuk pergi ke perpustakaan. Ikon produk dari hedonisme yang telah melekat di kota ini seakan-akan membuat mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kawasan Dago dengan deretan kafe yang menyuguhkan keunikannya masing-masing, atau berbelanja di factory outlet yang banyak di kawasan Cihampelas. Namun diri ini rasanya berbeda, setiap pergi ke Bandung, termasuk kali ini – yang saya cari adalah moment. Dan moment itu sulit didapatkan di kawasan hiruk-pikuk, namun Kineruku dengan segala keteduhannya dapat memberikan itu.
![]() |
| (Picture by : Mery, my-partner-in-crime) |
Bagi saya, ada lagi nilai plus bagi Kineruku yang mungkin tidak dimiliki oleh tempat lain. Atmosfer. Berlokasi di kota dengan posisi agak-atas, dengan banyaknya pepohonan besar sepanjang jalan menuju Kineruku membuat suasana disini adem dan asri. Ditambah lagi bangunan yang sederhana nan hangat, dan juga kebun belakang yang tenang. Interior yang apa-adanya tetapi apik dan artistik semakin membuat siapapun betah berlama-lama di Kineruku, saya salah satunya.
Biasanya di Kineruku sering menjadi tempat untuk diskusi buku, live music hingga peluncuran album indie. Bandung memang surganya kreativitas musik indie, sayangnya hari itu saya kurang beruntung. Ada pepatah bilang, kalau kau pergi ke suatu tempat dan belum banyak hal yang kau alami, maka kau memiliki alasan untuk kembali lagi. Saya percaya, sih! Mungkin, jika ingin melarikan diri suatu hari nanti, saya tahu kemana akan pergi. Karena menghabiskan hampir setengah hari rasanya belumlah cukup. Kalau bukan karena waktu, saya masih ingin berlama-lama disini. See you very soon, Kineruku. Terimakasih untuk hari yang menyenangkan!


0 comments