Bandung Usai Berkabung Part II : Pasar Cikapundung

March 27, 2018

Setiap kali pergi ke suatu tempat, baik itu kota besar maupun kota kecil, saya selalu mencari pasar. Bagi saya, pasar adalah identitas bagaimana suatu tempat itu dapat terlihat; baik dari ragam hasil bahan baku, jenis jajanan, makanan khas, hingga bahasa.

Kedatangan kali kesekian di Bandung pada hari ini, saat waktu sudah sore dan tidak sempat melihat aktivitas pasar layaknya pagi hari. Usai mengurai kemacetan yang seakan tidak ada habisnya, ditambah banyak jalan searah yang bikin pusing karena belum juga terbiasa, kendaraan terparkir dengan aman di Braga Citywalk. Hujan cukup deras, dan cerdasnya tak satupun dari kami suka memakai payung. Beruntung saat hujan deras kami pas berada di depan Toko Kopi Djawa, yang letaknya tidak jauh dari Braga City Walk. Berdiskusi singkat, tak butuh waktu lama kami memutuskan untuk masuk ke dalam. Tempatnya kecil, namun hangat. Saya menyukai atmosfirnya, kuno, klasik namun elegant. Ketidak-sengajaan mencicipi kopi dan beberapa potong snack, membuat kami bersyukur bahwa toh hujan tadi seperti menyuruh kami untuk sejenak beristirahat sebelum melangkahkan kaki ke tujuan semula, Pasar Cikapundung.
***

Saya selalu menyukai Kota Tua, dan Braga dapat menyediakan semuanya. Kawasan Braga ini merupakan saksi bisu dimana Bandung pernah menjadi simbol perjuangan Bangsa pada masa lalu. Kini bangunan yang dulunya fungsional, sebagian telah ditinggalkan. Sebagian dimanfaatkan sebagai Bank, Hotel, atau Toko. Sisanya adalah warisan keluarga yang seringkali menjadi warung makan, atau dibiarkan tanpa penghuni. Bangunan Tua seakan memiliki sihir magis bagi saya yang selalu penasaran, bagaimana dulu cerita berjalan? Apakah sesuai dengan sejarah yang diceritakan, ataukah banyak yang belum juga tersibak.
Di setiap kaki melangkah, seakan tak pernah puas dan enggan berhenti untuk mencari jalan keluar dari kawasan ini. Jiwa saya seakan déjà-vu, terkenang betapa rumitnya sejarah dapat terbentuk serta manusia yang menjadi saksi hidup perjalanan waktu.
***

Pasar Cikapundung merupakan tujuan kami pertama saat tiba di Kota Bandung, bukan tanpa alasan. Saya dan kawan saya memiliki satu kesamaan, antik - dan juga hobi yang sama, menyukai barang-barang klasik. Selera kami bertaut saat bercerita dengan sejarah ataupun hal-hal seputaran musik, seperti jazz, keroncong, barang-barang antik dan banyak lagi. Sehingga, saat mengunjungi Bandung, rasanya belum lega kalau belum menjajakkan kaki di Pasar ini yang telah eksis sejak tahun 1987.

Dulunya, sebelum di restorasi pada tahun sekitar 2014, Pasar Cikapundung masih kurang tertata serta belum kondusif bagi pelancong, apalagi yang tidak paham dengan bahasa daerah. Itu adalah masa lalu, dan pasar ini terus berbenah. Suasana telah berbeda saat saya pertama kali menjejakkan kaki disana. Pemerintah Kota seakan tahu potensi yang tersimpan pada pasar ini, karenanya lokasi di Pasar Cikapundung telah dikenal sebagai tempat berkumpulnya para Kolektor, Komunitas Barang Antik, Pedagang hingga Penikmat barang-barang klasik-vintage. Saat saya berbincang sedikit dengan beberapa penjual, mereka juga bercerita kalau saat ini semakin kentara konsumen yang datang ke Pasar Cikapundung juga tidak hanya datang dari Bandung dan sekitarnya, namun ada juga yang sengaja datang dari Luar Kota, bahkan dari Luar Negeri. 

Pasar Cikapundung terdiri dari tiga lantai. Saat kami mulai memasuki Pasar, saya dan kawan saya langsung menuju ke lantai paling atas. Karena menurut informasi, akan menemukan sentra barang antik di lantai tersebut. Beruntung di saat kami datang, waktu hampir menjelang sore. Sesaat setelah hujan deras yang mengguyur. Tak berapa lama muncul cahaya matahari senja yang masuk melalui sela-sela kaca etalase. Bias cahaya itu menghasilkan pemandangan cantik, yang layak diabadikan melalui tangkapan lensa kamera. Lagi-lagi, sayangnya di saat itu saya masih dalam proses upgrade kamera lawas ke yang baru, sehingga tidak banyak momen yang tertangkap dengan baik karena hanya menggunakan ponsel.
Salah satu los di Pasar Cikapundung, yang menjual beragam benda antik termasuk lukisan anak laki-laki. fyi, kebetulan yang aneh karena lukisan ini sama dengan lukisan di rumah yg saat ini entah berada dimana.
(Picture by : Yerinta)
Aneka barang sarat nilai sejarah juga bisa ditemukan di sini. Mulai dari benda pusaka peninggalan kerajaan Nusantara, keramik dari zaman dinasti Tiongkok, bahkan hingga artefak dari masa pemerintahan kolonial. Belum lagi barang-barang antik yang masih belum terdeteksi darimana sesungguhnya ia berasal.
Semakin tua dan langka, maka nilai dari barang-barang tersebut akan semakin tinggi. Tentunya nilai harga yang tinggi bukan masalah bagi para kolektor, sekalipun hal itu sudah tentu menjadi masalah bagi kami yang sangat mupeng sore itu. Kawan saya adalah seorang Cellist, ia terbiasa memainkan Cello untuk pementasan Keroncong di samping waktunya bekerja. Sehingga, kedatangannya kesini juga sekaligus ingin melihat-lihat perintilan yang berhubungan dengan Cello. Sayangnya, hingga kami berkeliling di setiap lantai, hingga menjelang senja - masih juga belum menemukan apa yang ia cari.

Semakin kami mencari, semakin kami tak ingin pergi. Mata seakan dimanjakan oleh ragam sajian suasana lawas, seakan-akan kami masuk kedalam lorong waktu. Kiri dan kanan terdapat kios-kios sederhana dengan isi yang luar biasa. Unik, dan cantik.
Pasalnya, baru menysuri satu lantai di lantai tertinggi saja, sudah bermacam-macam los barang antik yang mencuri pandangan. Salah satu contohnya seperti di Artic Room. Kios ini pada bagian dalam terdapat sejumlah peralatan kuno yang hebatnya masih berfungsi dengan baik - salah satunya adalah grinder buatan tahun 1930-an dari Eropa. Melangkah ke ruangan yang lebih dalam lagi, masih tersisa beberapa peninggalan sisa dari Perang Dunia II (entah bagaimana si empunya mendapatkannya) seperti pelindung kepala dan tutup botol minuman milik salah satu tentara Panzergrenadier, yang mana merupakan salah satu divisi elit Jerman pada zamannya.

Tidak berhenti di satu kios saja, usai banyak bercerita dengan si empunya, kami kembali menyusuri los lain yang tak jauh. Mata saya kemudian tak lepas dari salah satu kios dengan etalase Kamera Analog. Tempat ini, sunguh-wajib-dikunjungi bagi yang menyukai soal fotorafi. Ada beragam model kamera lawas, sebagian masih berfungsi, sebagian lagi ada yang hanya sebagai pajangan.
***

Saat sebelum matahari benar-benar telah tenggelam sempurna, kami menyudahi petualangan singkat ke lorong waktu. Masih ada cahaya sore yang menemani langkah-langkah kecil kami, untuk menikmati sisa sore yang teduh di depan Gedung Asia Afrika, berbincang seru dengan seniman jalanan yang ternyata berasal dari Yogyakarta. Lucu rupanya, jauh-jauh ke Bandung bertemunya dengan yang dari kota sendiri.

Kembali memandangi bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh menjadi saksi bisu sejarah bangsa, seakan ingin menghentikan waktu dan kembali ke masa lalu. Namun keinginan itu terlalu mustahil karena kita hidup dalam dunia yang nyata, bukan sekedar maya. Sore seakan tak pernah selesai. Lelah atas perjalanan panjang tanpa tidur yang cukup nyatanya tak lagi terasa. Mata ini juga terasa segar, raga tak merasa lelah, karena mungkin jiwa kami tengah bersukacita. Kami menutup hari itu dengan menyantap Nasi Tutug Oncon di sebuah Kedai yang masih berada di kawasan Braga, sebelum akhirnya bertolak ke dormitory-house tepat di seberang Unika Parhyangan.
Beruntung karena kami mendapatkannya saat baru saja memasuki kota tadi pagi melalui aplikasi booking. Bangunannya unik, sangat dingin karena letaknya yang agak keatas, namun memiliki atmosfir yang bersih dan hangat. 
Sebelum benar-benar terlelap dan masuk ke kamar masing-masing, telinga kami dimanjakan dengan latihan Paduan Suara yang menggemakan lagu-lagu gregorian nan indah, mengantarkan istirahat malam dengan syahdu.

You Might Also Like

0 comments