Bandung Usai Berkabung
March 27, 2018
Pesawat yang saya tumpangi baru saja mendarat dengan sempurna di Bandara Adi Sumarmo, Solo. Sarana yang mengantarkan saya untuk kembali pulang kerumah setelah perjalanan singkat yang cukup menguras psikis (dan fisik pastinya) untuk mengantarkan Bue menuju peristirahatan yang terakhir. Bue adalah sebutan untuk Kakek dalam Bahasa Dayak Ngaju. Kepergiannya begitu indah, disaat secara tidak sengaja semua anggota keluarga lain berkumpul untuk merayakan pernikahan salah seorang cucunya, disaat yang sama ia menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali. Bue meninggal di usianya yang ke 91, serta 18 tahun berselang setelah kematian Tambi pada tahun 2000. Saat Bue berpulang, seakan semua keluarga lebih ikhlas untuk melepaskan, disamping karena usia yang sudah memang saatnya, kematian Bue seakan menjadi paripurna karena tugasnya sebagai manusia telah tuntas.
Selama hidup tanpa Tambi, saya akui kemandirian Bue dalam mengurus banyak hal sangat hebat. Masalah seakan tak berhenti singgah di usianya yang tidak lagi muda, namun Bue senantiasa percaya bahwa semua akan ada jalan keluar, bahwa masalah tak pernah lebih besar dari kekuatan. Setelah hidup sendiri juga, Bue telah beberapa kali berkunjung ke rumah tempat kami tinggal di Yogyakarta, tepatnya pada tahun 2008. Tanpa terasa 10 tahun telah berlalu, dan kini Beliau telah benar-benar beristirahat dalam kedamaian kekal bersama Bapa.
Saat itu saya sedang merevisi beberapa artikel, dan Ibu yang pertama kali memberi tahu kalau Bue telah meninggal. Setelah sebelumnya kami memang bercerita soal kondisi Bue yang telah kritis. Kebetulan Ayah dan Ibu waktu itu sedang di Palangkaraya, dan saya masih di Yogyakarta karena masih ada beberapa pekerjaan. Dari awal, saya memang tidak berniat untuk hadir pada acara pernikahan keluarga, karena... ya, memang tidak ingin saja.
Kepergian Bue tentu menyisakan kesedihan yang mendalam kepada saya, sebab diantara banyaknya cucu Bue, hanya saya yang paling jauh, paling jarang bertemu dan paling jarang bercerita. Tidak sanggup rasanya melihat Bue saat terakhir kali, telah terbujur kaku dalam peti. Jauh sebelum Bue meninggal, ia telah memesan satu liang, yang bersebelahan dengan milik Tambi. Saat itu pemakanan telah padat, dan ternyata Bue telah mempersiapkan dengan baik dimana raganya akan beristirahat, selama-lamanya.
Kedukaan selalu menyisakan tangis, membekas pada mata yang kian sembab. Sesaat setelah memasuki pintu kedatangan penumpang, saya menuju toilet. Mencuci muka, sedikit membersihkan badan dan berganti pakaian yang lebih hangat. Perjalanan menyelesaikan kedukaan memang baru saja selesai, namun petualangan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
***
A short-getaway ini, memang telah direncanakan jauh-jauh hari sebelum berita duka disampaikan beberapa hari yang lalu. Agak menjadi kebetulan, karena sewaktu muda dulu Bue menyelesaikan pendidikan di Bandung, dan tepat sesaat setelah Bue meninggal, saya pergi ke Bandung. Padahal bisa saja, perjalanan saya ke Surabaya, Jakarta, Semarang atau kemana saja selain Bandung. Kebetulan yang agak aneh.
Kawan seperjalanan saya kali ini mulai meyakinkan bahwa tidak apa-apa kalau perjalanan kali ini dilakukan di lain waktu, saat situasi telah mulai kondusif. Namun saya kembali berpikir, setelah ini mungkin tidak akan ada waktu dan kesempatan lagi, mengingat yang lalu-lalu, ketika telah banyak rencana yang batal karena terlalu banyak pertimbangan. Akhirnya sesaat sebelum saya bertolak menuju Solo, saya kembali memberitahu kawan saya bahwa tidak apa-apa untuk meneruskan rencana yang sudah matang, toh saat ini memang waktunya sedang pas, dan kedukaan telah berlalu.
Beruntungnya lagi karena pesan Bue dulu, saat ia meninggal kelak, tidak ingin acara berhari-hari sebagaimana orang Dayak pada umumnya. Sehingga tidak perlu juga saya berlama-lama berada di Palagkaraya dan berbasa-basi dengan banyak orang yang sedikit saya kenal. Tidak lama setelah saya keluar dari pintu kedatangan Bandara, tak lama kemudian ia datang menjemput.
***
Perjalanan kali ini benar-benar sunyi karena hanya ada saya dan dia (karena biasanya kami berberapa orang). Sebelum-sebelumnya juga kami telah terbiasa terlibat dalam “tugas jalan-jalan” berdua. Saya menyebutnya sebagai tugas jalan-jalan, karena bukan sepenuhnya jalan-jalan dan tidak melulu dalam bentuk tugas. Bahkan ada yang menjuluki saya dan dia seperti Pilot dan Co-Pilot yang saling melengkapi. Karena ia memegang kendali, sementara saya yang mengatur kendali.
Kawan saya ini adalah orang yang liar, namun juga cerdas. Berani namun penuh perhitungan. Hampir semuanya bisa ia kerjakan, kecuali mengajari berhitung aljabar. Selagi bepergian dengannya, saya tidak pernah merasa cemas, ataupun takut. Optimisme serta kenekatannya dalam menaklukan jalanan, membuat saya yakin bahwa perjalanan ini akan baik-baik saja, sampai tujuan akhir.
Waktu kami hanya sebentar, perjalanan dimulai hari Senin malam, dan harus kembali pulang Kamis pagi. Malam harinya mulai memasuki ritual Tri Hari Suci, tidak ada kompromi lagi. Ia memiliki kewajiban lagi setelah ini. Kalau ditotal, perjalanan ini hanya kurang dari 3 hari termasuk waktu tempuh pulang pergi. Kuantitas waktu yang minim, jelas kurang namun kami cukup senang.
***
Perjalanan dimulai melewati jalur selatan. Kendali kemudi sepenuhnya ada pada kawan saya, sesekali saya tertidur dengan pulas mengingat hari-hari terakhir sangat kurang istirahat. Dalam tempo beberapa jam sekali kami berhenti, sekedar meluruskan badan sembari membeli kopi atau serta persediaan kebutuhan kecil yang lain selama dalam perjalanan.
Kendaraan mulai memasuki Nagrek saat menjelang subuh. Suara Adzan mengiringi, hampir terdengar di sebagian besar jalan saat kami melintas. Meski kami tidak mengikuti ritual ibadah pagi, namun kami meyakini segala doa baik juga turut menyertai bagi siapapun yang melewati waktu itu dalam perjalanan. Perkiraan memasuki Kota sebelum siang hari, secepat yang kami bisa agar dapat merasakan pagi yang berbeda dengan segala keriuhannya. Walakin, rencana meleset, jalanan macet di sekitaran Buah Batu. Pergerakan terhenti hampir 3 jam lamanya. Meskipun tidak sedang mengejar sesuatu karena perjalanan ini memiliki jadwal yang fleksibel, namun akhirnya kami hanya bisa pasrah jam berapa akan benar-benar tiba.


0 comments