Di Bawah Pohon Randu
August 13, 2020Andaikata kau tak pernah ada.
Riak berlabuh, bayangan imajiner merasuk.
Kau tampak pada senyap waktu,
Kaos hitam dan celana cokelat.
Sungguh terlihat
Padahal nyala bulan tak mampu mengalahkan gelapnya malam,
Tapi kau mampu.
Mengubah segalanya, takluk kan rapuh jiwa yang coba kubangun.
Terus ikuti bahkan tak kunjung usai.
Memori perjalanan masa kecil, tiap senja melihat langit.
Kukejar ia dengan pertanyaan, “Akan kemana setelah ini?”
Lalu senja bagai monument khayal.
Sebut saja, dan kuingat beberapa hal;
Terutama engkau.
Sepasang garis, dan senja kian meredup.
Bahkan ilmu alam coba membongkar fakta,
Tak palang peduli,
Bagiku gelapnya malam ingin menghapus jejak yang diukirnya di sini,
Tapi bukan kenangan.
Langit seakan muram dalam warna hitam pekat,
Perlahan aku mulai buta tak mampu melihat,
Hanya mampu merasa tiupan angin semakin kencang menyentuh halus tubuh ini.
Tanpa perasaan, juga emosi.
Dinginnya angin, desiran air mengalir, wangi daun kayu putih.
Semua itu, andai kau tahu.
Dibawa dari tempat yang jauh;
Ya, masa lalu.
Aku hanya bisa merasa,
Cahaya putih datang menghamburkan gelap,
Yang tunduk kan senja.
Untukmu juga rindu itu,
Selalu.


0 comments