Ketika Cinta Tak Berdiri Sendiri : Sebuah Catatan Pasca Menonton The Materialist
June 28, 2025Memasuki masa-masa akhir semester, saya sesekali melipir main ke rumah kawan dekat saya sedari masa kerja di korporat sialan dulu. Karena jalanan kota sedang sering macet-macetnya dan dimana-mana padat, akhirnya kami memutuskan untuk chill dan memilih go-food makan sambil nonton film di Netflix. Karena pikiran kami sama-sama penat, akhirnya pilihan film jatuh pada The Materialist.
Pilihan untuk menonton itu ternyata salah, karena usai film selesai, ia banyak berkisah banyak tentang rasa 'gemas'nya; dan menonton film The Materialists membuat saya jadi memikirkan satu hal yang membuat tidak nyaman: "Bagaimana jika cinta ternyata tidak pernah berdiri sendirian?"
***
Pada umumnya, tiap kita; tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta mampu mengalahkan segalanya. Namun semakin dewasa, dan kompleksitas itu kian beragam seiring kita bertumbuh, semakin banyak pula 'daftar atau aturan' yang diam-diam ikut terbawa dalam sebuah relasi. Cara berkomunikasi, kondisi finansial, lingkar pergaulan, pekerjaan, pendidikan, pilihan-pilihan sepele, hingga visi masa depan. Cinta mungkin membuka pintu, tetapi sering kali ada banyak hal lain yang menentukan siapa yang akhirnya dipersilakan masuk dan menetap.
Kawan saya merasa bahwa hidupnya baik-baik saja, tapi rasanya kosong. Dan dari kekosongan itu, energinya cepat habis. Sekilas terlihat sepele, tapi efek domino yang terjadi rupanya tidak sesederhana itu.
Respon dan Komunikasi. Adalah ujian bagaimana kita dibentuk dari benturan-benturan kedewasaan. Hal-hal yang bahkan tak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Mungkin, karena itulah ia sering merasa cemas, terhadap masa depannya, terhadap relasi dengan kekasihnya. Bukan karena meragukan perasaan sang kekasih, melainkan karena dirinya menyadari bahwa ternyata tidak selamanya atau tidak selalu memenuhi kriteria yang (mungkin) kekasihnya cari dalam hidup. Bahkan, di beberapa momen, ia merasa bahwa dirinya tidak se-progresif orang-orang yang dikagumi oleh kekasinya. Well, dibandingkan dengan perempuan yang pernah dekat dengan kekasihnya dulu, kawan saya juga bukan tipikal perempuan yang se-berani itu; sebutan untuk mereka yang rock-and-roll tanpa perlu banyak berpikir pertimbangan ini dan itu, ia juga tidak juga se-energik orang-orang yang baterainya seakan tidak pernah habis. Meski dalam pemikiran, saya yakin kawan saya bukan orang yang bodoh, ia cerdas dan cukup bisa mengimbangi obrolan dalam konteks apapun, pengetahuannya luas — namun, dalam banyak hal ia justru merasa seperti anak kecil yang selalu belajar berjalan ketika orang lain sudah berlari jauh.
Memang, rasa inferior itu tidak muncul setiap hari. Namun, seringkali menghampiri ketika ia mendengar cerita tentang orang-orang yang cukup dekat dengan kekasihnya, perempuan-perempuan yang menurut kekasihnya mengagumkan, atau kehidupan yang ingin kekasihnya bangun di masa depan. Ia senang mendengar cerita-cerita itu, meski sesekali pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam diam, “Jika hidup adalah serangkaian pilihan yang rasional, apakah dirinya akan tetap terpilih?” Sebab, kawan saya merasa, ia dan kekasihnya benar-benar banyak berseberangan, dalam banyak hal. Belum lagi, jika rutinitas yang monoton hingga akhirnya membuat jenuh. Meski ketika saya melihat mereka, mereka terlihat satu frekuensi.
Materialists memperlihatkan bagaimana manusia modern mencoba mengukur cinta dengan berbagai variabel: pekerjaan, penghasilan, pendidikan, status, penampilan, hingga kemungkinan masa depan.
Menariknya, daftar semacam itu ternyata tidak hanya dimiliki para pencari pasangan, setidaknya itu yang tertuang dalam film. Bahkan mereka yang sedang menjalin hubungan pun diam-diam membuat daftar yang sama—bukan hanya untuk menilai pasangannya, tetapi juga untuk menilai dirinya sendiri.
Bahkan, meski saya melihat kawan saya ini tidak seperti perempuan pada umumnya, yang manja dan terkadang posesif; dan ia justru sebaliknya; membebaskan terhadap pilihan dan circle pertemanan pasangannya — dengan catatan, selama itu tidak merugikan. Meski belakangan, tampaknya ia memiliki ketakutan juga, terhadap kemungkinan bahwa suatu hari kekasihnya bertemu dengan seseorang yang lebih sesuai daripada dirinya. Atau, mungkin saja seseorang yang lebih sewarna ketika diajak berkisah, lebih mapan, lebih matang, atau yang lebih dekat dengan gambaran pasangan ideal yang (mungkin) diidamkan oleh kekasihnya.
Barangkali itulah dilema yang tidak banyak dibicarakan. Saya akhirnya melihat satu hal bahwa, setiap kita seringkali takut kehilangan cinta, tetapi lebih jarang mengakui bahwa kita juga takut tidak cukup layak untuk mempertahankannya. Dan mungkin pertanyaan yang paling sulit bukanlah, "Apakah ia mencintaiku hari ini?" Namun, justru pertanyaan yang lebih sulit lagi, terlepas dari komitmen dan makna kesetiaan,
“Jika semua kualitas, pencapaian, kecocokan, dan kemungkinan masa depan diletakkan di atas meja, apakah diri ini masih menjadi orang yang dipilih oleh pasangan kita saat ini?”

0 comments